Update
Shoffa Ashhabul Kirom
XI-TKJ(2014-2015)
SMKN 3 Balikpapan

Rabu, 08 April 2015

10 Mitos Sains Popuer 1

 1. Pembagian Otak Kanan-Kiri mempengaruhi gaya belajar
Mitos ini gue taruh di nomor 1 karena gue lihat populer banget dan impact-nya cukup luas. Guru-guru di sekolah pun banyak yang percaya dan mempengaruhi anak didiknya. Pada derajat tertentu, menelan konsep ini metah-mentah bisa berbahaya.

Dikotomi otak kanan-kiri lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains terhadap otak (split brain experiment) di tahun 1960an. Walaupun ada distribusi kerja di masing-masing bagian otak, faktanya, otak kanan dan kiri kita tidak pernah terisolasi satu sama lain dan selalu bekerja sama ketika melakukan suatu kegiatan apapun.


2. Eh belum 5 menit!

5 Seconds Rule” adalah kepercayaan yang bilang bahwa butuh waktu 5 detik buat bakteri di lantai untuk mengkontaminasi makanan yang jatuh ke lantai. Kalo bisa ambil makanan yang jatuh dari lantai dalam waktu kurang dari 5 detik, makanannya masih bagus buat dimakan karena bakteri belum sempat “menyentuh” makanan tersebut. “5 Seconds Rule” ini tidak lebih dari anjuran supaya kita ga buang-buang makanan.

Dan faktanyaa, sedikit kontak aja dengan lantai, bahkan 1 detik aja, bakteri-bakteri di lantai pasti langsung mengkerubuti makanan yang jatuh itu. Penelitian menujukkan, ga ada perbedaan yang signifikan pada jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai dalam 2 detik dengan jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai yang sama selama 6 detik. Iya, hal sesimpel ini aja ada penelitiannya.


3 Manusia makai 10% Kapasitas Otaknya

Mitos otak yang satu ini menyatakan kalo manusia baru memanfaatkan 10% kapasitas otaknya, 90% lagi masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Biasanya mitos ini juga dibarengi dengan mitos serupa, seperti “Einstein sudah bisa memanfaatkan otaknya 16%, manusia biasa baru 10%”.

Kalo emang otak lo baru dipake 10%, lo ga akan bisa membaca tulisan gue ini. Fakta bahwa lo lagi segar bugar di depan laptop baca tulisan ini, adalah bukti kalo otak lo sudah berfungsi sepenuhnya. Jika hanya 10% bagian otak lo yang bekerja, lo udah stroke kali.

Sama dengan mitos otak sebelumnya, mitos ini juga lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains. Mitos ini bisa populer karena seakan memberi pengharapan (palsu) pada pelajar yang nilainya jelek atau pas-pasan bahwa ada cara instan untuk mengaktivasi 90% bagian otak lainnya. Seperti gue sebutkan sebelumnya, usaha keras memang harga mati untuk meraih apa yang kita inginkan. Everything has its price. Einstein sendiri bilang, "I have no special talent. I am only passionately curious."


4. Lidah Punya zona-zona untuk mengecap rasa tertentu

Dari mana mitos ini lahir? Konsep ini bermula dari sebuah penelitian yang landasannya ga kuat. Pada 1901, seorang ilmuwan Jerman melalukan penelitian terhadap sensitivitas lidah pada 4 rasa yang umum (manis, asam, asin, pahit). Ditemukan bahwa terdapat perbedaan waktu pada bagian2 lidah untuk bisa mendeteksi rasa dari suatu zat makanan. Tapi perbedaan waktunya tipiiis banget dan ga terlalu signifikan. Entah kenapa, terjadi simplifikasi bahwa perbedaan waktu ini dibilang jadi perbedaan sensitivitas.

Padahal, walaupun satu bagian pada lidah bisa mendeteksi suatu rasa sedikit lebih cepat, semua bagian pada lidah bisa bisa merasakan semua jenis rasa dengan level intensitas dan sensasi yang sama.

Sebenarnya gampang banget kalo lo mau membuktikan peta rasa pada lidah itu keliru. Ya coba aja lo taruh garam di ujung depan lidah lo, lo bisa merasakan rasa asin. Taruh gula di pangkal lidah, lo bakal tetap bisa merasakan rasa manis.

Berbagai penelitian dan dekontruksi pemahaman terkait peta rasa pada lidah yang lahir seabad lalu ini sudah banyak dilakukan. Yang terbaru adalah penelitian pada 2014 yang berhasil mengungkap bahwa ada 8.000 sensor yang tersebar di lidah dapat merasakan berbagai rasa secara merata, ga per bagian.

Yang masih menjadi misteri adalah kenapa konsep yang udah kedaluwarsa ini masih diajarin di sekolah. Ga hanya di Indonesia aja, di kurikulum Amerika sana, materi ini masih masuk jadi bahan ajar.


5. Aktivitas Otak Tengah

Mitos yang satu ini bukan lahir karena salah tafsir temuan ilmiah maupun ilmu yang kedaluwarsa. Mitos ini lahir dari konsep yang ngaku-ngakunya ilmiah, padahal sama sekali tidak berdasarkan ilmu pengetahuan dasar yang valid tentang otak.

Otak tengah adalah penghubung otak depan dan otak belakang. berfungsi mengontrol respon penglihatan, pendengaran, gerakan bola mata dan dilasi pupil, gerakan motorik, kewaspadaan (alertness), serta mengatur suhu tubuh. Sedari kecil, otak tengah kita sudah berfungsi. Gampang aja untuk mengatehaui apakah program AOT ini bener atau enggak. Sesuai dengan fungsinya, kalo bener otak tengah kita masih "tidur” atau belum aktif, berarti pergerakan bola mata jadi abnormal, kena penyakit Parkinson, hingga stroke.

Hebohnya lagi, program Aktivasi Otak Tengah diiringi dengan klaim fantastis, seperti setelah anak diaktvasi otak tengahnya, ia jadi bisa melihat dengan mata tertutup dan jenius dalam hitungan hari. Wah gimana masyarakat awam ga tertarik ya dengan cara instan seperti ini. Apalagi orang tua yang sangat mendambakan anaknya jadi seorang jenius.

Oiya, mau kasih catatan sedikit tentang gambar di atas. Bukan berarti para cuber (pemain rubik cube) ga bisa menyelesaikan rubik dengan mata tertutup ya. Menyelesaikan rubik's cube dengan mata tertutup emang bisa dilakuin tanpa ngintip. Ratusan ribu cuber di dunia udah buktiin itu bisa bahkan ada kompetisinya tersendiri. Soal kecurangan itu juga ada, tapi jumlahnya gak signifikan dan yang ketauan curang udah diproses secara resmi (di-banned dari kompetisi resmi, dll). Mereka bisa melakukan itu dengan mempelajari pattern dari rubik's cube itu tersendiri.


Lanjutan : 6-10 DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tester-ip
Shoffa Ashhabul Kirom